Categories
Parenting

Suka Banget Berlaku Agresif

Menendang, memukul, dan menggigit, belakangan ini jadi “hobi baru” si kecil yang memasuki usia batita. Ini dia penyebabnya. Tomi terlihat kesal. Bocah dua tahun ini berupaya meminta mainan dari kakak perempuannya, tetapi tidak digubris. Satu menit saja Tomi berusaha menunggu. Detik berikutnya ia sudah menarik mainan dari kakaknya sembari mencubit.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Kontan saja si kakak yang hanya berbeda 16 bulan itu menjerit dan menangis. “Dicubit adik,” ia mengadu ke mamanya. Sang Mama menghampiri, “Kenapa kakaknya dicubit, Tomi?” Tomi diam saja. Bibirnya mengerucut. Mama pun memilih untuk memisahkan sejenak kakakadik yang sedang marahan tersebut. Tapi ia tak henti berpikir, mengapa Tomi belakangan ini sering berbuat kasar. Kemarin, pengasuhnya digigit. Dalam minggu ini juga, papanya giliran kena tendang. Kenapa, sih?

Cerminan Rasa Frustrasi

Mama Papa jangan buru-buru menilai sikap kasar anak sebagai kepribadian si kecil. Menurut psikolog Nuri Sadida, masih terlalu dini untuk menilai perilaku agresif tersebut adalah bagian dari kepribadian si batita. “Karena kepribadian seseorang terbentuk seiring pertambahan usianya.” Pada usia batita, menurut Nuri, kita baru bisa mengamati apakah buah hati memiliki karakter yang cenderung sulit dikendalikan.

Biasanya hal ini, terlihat dari perilakunya yang mudah terganggu oleh perubahan, lebih banyak marah dan menangis daripada tertawa dan bahagia, serta perilaku tidak konsisten, misal, hari ini mudah tidur, keesokannya sulit disuruh tidur. Yang sedang terjadi pada batita sebenarnya, kesadaran akan keinginan mereka semakin berkembang, dan mereka semakin bersemangat menyampaikan keinginan mereka.

Sayangnya, mereka masih memiliki keterbatasan dalam menyampaikan apa yang mereka sukai dan tidak disukai. Mereka pun jadi “frustrasi” kalau keinginannya tidak didengar/dikabulkan. Jadilah, mereka akan berusaha mendapatkan keinginan itu dengan cara mereka sendiri. “Terlihat mereka mudah merebut, mengejar, dan sebagainya,” ujar Nuri.

Apabila tidak berhasil, atau merasa marah, lelah, dan berhadapan dengan situasi yang membuat tidaknyaman, mereka juga akan mudah menyalurkan energi dan emosinya melalui gerakan-gerakan bersifat fisik seperti menendang, memukul, dan menggigit. Jadi, wajar saja bila pada periode ini batita kerap melakukan tindakan agresif, terutama apabila ia merasakan ketidaknyamanan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *