Categories
Berita

Aksi 212 Sebagai Faktor Penentu

Hanya ada dua pasangan calon presiden-wa presiden untuk Pe kil – milihan Umum 2019, yaitu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo SubiantoSandiaga Salahudin Uno. Kedua pasangan ini akhirnya mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum setelah perjuangan alot di kedua kubu. Keputusan keduanya menguatkan analisis saya tentang kesesuaian teori kepemimpinan locus of leadership yang cocok untuk kondisi pemilihan presiden di Indonesia.

Teori ini menunjukkan persyaratan untuk menjadi pemimpin yang efektif, kalau ada perpotongan antara karakter pemimpin, pengikut, dan situasi-kondisi. Sementara dalam pemilihan-pemilihan sebelumnya karakter pemimpin lebih menonjol, dalam pemilihan tahun depan sepertinya terjadi pergeseran ke karakter pemilih dan situasi-kondisi yang berdampak pada pemilihan calon wakil presiden. Faktor itu adalah peristiwa 2 Desember 2016, yang lebih dikenal dengan sebutan Aksi 212.

Dari Aksi 212 tersebut, kesadaran umat Islam akan “kekuatan” mereka meningkat, bahkan kemenangan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI sering dikaitkan dengan Aksi 212. Kekuatan Aksi 212 sebagai faktor penentu mulai terlihat ketika partai-partai anggota koalisi Prabowo menyampaikan ijtima’ para ulama yang bersepakat agar calon presiden adalah Prabowo Subianto dan wakilnya Abdul Somad atau Salim Segaf Al Jufri. Publik mengenal model semacam ini dengan istilah politik aliran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *